KUNINGAN |tribun TIPIKOR.com
Gunung Ciremai, ikon ekologis dan simbol kearifan lokal masyarakat Kuningan, dinilai tengah menghadapi ancaman serius akibat arah pembangunan pariwisata yang dinilai semakin menjauh dari prinsip konservasi. Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI) Kabupaten Kuningan menilai lemahnya kepatuhan terhadap regulasi tata ruang berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan di kawasan tersebut.
Ketua FORMASI Kabupaten Kuningan, Manap Suharnap, menegaskan bahwa Gunung Ciremai bukan sekadar destinasi wisata, melainkan kawasan yang memiliki nilai historis, budaya, dan ekologis tinggi yang selama ratusan tahun dijaga melalui kearifan lokal dan pesan leluhur.
“Dulu, Ciremai seolah memiliki mekanisme perlindungan alami melalui nilai sakral dan budaya. Kini, perlindungan itu runtuh oleh kepentingan ekonomi dan pembangunan yang tidak terkendali,” ujar Manap, Sabtu (3/1/2026).
Ia menilai meningkatnya perambahan hutan, alih fungsi lahan, hingga maraknya pembangunan wisata buatan menjadi indikator kuat bahwa pesan leluhur dan prinsip konservasi mulai diabaikan. Bahkan, menurutnya, perburuan satwa liar endemik Ciremai kian sering terjadi tanpa pengawasan yang memadai.
“Ini bukan lagi isu kecil. Jika dibiarkan, kerusakan ekosistem akan berdampak langsung pada bencana ekologis seperti longsor, banjir bandang, dan krisis air,” tegasnya.
Manap juga mengkritisi polemik yang tak kunjung selesai terkait batas kawasan konservasi, wilayah penyangga, serta pemanfaatan sumber daya air permukaan. Ia menyebut perdebatan tersebut cenderung berulang karena tidak berangkat dari kepatuhan terhadap regulasi tata ruang yang sudah jelas.
Menurutnya, wilayah penyangga kawasan konservasi Gunung Ciremai seharusnya dikelola secara ketat sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), mengingat kawasan tersebut memiliki fungsi vital dengan penggunaan lahan yang beragam, mulai dari permukiman, pertanian, hingga pariwisata.
“Yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Hutan berubah menjadi lahan pertanian, lalu pertanian berubah menjadi kawasan wisata dengan bangunan permanen. Ini pelanggaran logika tata ruang,” katanya.
Sementara itu, Sekjen FORMASI, Rokhim Wahyono, secara lebih spesifik menyoroti pembangunan dan pengembangan objek wisata Arunika yang dinilai menyimpang dari arah kebijakan pembangunan kepariwisataan Kabupaten Kuningan.
Rokhim mengungkapkan bahwa Peraturan Bupati Nomor 90 Tahun 2020 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Kuningan (RIPPARKAB) secara tegas menempatkan pelestarian lingkungan sebagai prinsip utama. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara regulasi dan implementasi.
“Ruang terbuka hijau di kawasan Arunika tidak proporsional. Dominasi beton, parkiran permanen, dan bangunan masif jelas mengurangi daya serap air. Ini berbahaya, terutama di kawasan rawan longsor,” tegas Rokhim.
Ia juga menilai konsep pengembangan Arunika tidak sejalan dengan visi pariwisata berbasis alam dan budaya yang berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan yang digunakan justru cenderung mengabaikan identitas lokal.
“Mulai dari desain bangunan hingga atribut karyawan, yang ditonjolkan justru budaya luar. Ini bertentangan dengan semangat menjaga jati diri budaya Kuningan sebagaimana diamanatkan dalam RIPPARKAB,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rokhim menegaskan bahwa Perda Nomor 26 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Kuningan 2011–2031 serta Perbup Nomor 90 Tahun 2020 tentang RIPPARKAB 2020–2028 seharusnya menjadi instrumen utama pengendalian pembangunan, bukan sekadar dokumen administratif.
“Jika regulasi hanya dijadikan formalitas perizinan tanpa pengawasan ketat, maka pariwisata akan menjadi ancaman, bukan solusi pembangunan daerah,” katanya.
FORMASI menilai pemerintah daerah perlu bersikap tegas dan konsisten dalam menegakkan aturan, termasuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aktivitas pembangunan pariwisata di kawasan Gunung Ciremai dan wilayah penyangganya.
“Pembangunan yang mengorbankan lingkungan hanya akan meninggalkan kerusakan jangka panjang. Ketika alam rusak, semua capaian pembangunan akan runtuh dengan sendirinya,” pungkas Rokhim.
| red/4nd121|





